Postingan

Pulang ke Surrey

Perjalanan diwarnai dengan sedikit hujan hari itu, ketika roda-roda pekerja mesin itu menembus jalanan yang dikelilingi hutan pinus, langit berwana abu-abu muda saat itu. Dingin dan sejuk menjadi satu saat kaca jendela terbuka, wangi air bercampur basahnya tanah melintasi hidung, senyum mengembang.  London tak pernah seteduh itu, makanya Aku pergi ke Surrey, sekedar hanya untuk menghabiskan akhir pekan. pertengahan Desember, Aku melirik ke jam tanganku sedikit. sampai pada satu pedesaan dengan rumah berdinding batu-batu kali, Aku melihat sisa perapian tadi malam masih menyala dari kejauhan. Rumah, dengan ruang tamu berisikan sofa kulit beludru dan kain perca yang terlipat rapi, Aku melepaskan penat dari kesibukan London yang pekat. Hangat.

Akhirnya Senja Bertemu Dengan Sang Fajar

Senja namanya, Selama ini Ia hanya terduduk di ujung tebing, sembari menikmati matahari terbenam. Isi kepalanya bergerak cepat seiring awan sore hari hilang bersama dengan kabut. Senja namanya, Selalu saja Ia termenung tertunduk, ketika malam menjemput dan siang meninggalkannya, Ia tenggelam dalam kenangan juga kesalahan, yang ia lihat hanyalah gambaran juga perasaan yang berbalut luka, kecewa, marah, dendam dan lara. Senja namanya, Saat Ia kesulitan memaafkan dirinya,memaafkan orang lain, Ia berlari ke ujung hutan, mengambil batu melemparnya jauh ke tebing. Senja sendirian dalam teriakan kesedihannya. Senja namanya, yang ada hanya murung, keluh dan kesah..Sepertinya Ia sulit bersyukur. Hingga suatu saat... Muncul Fajar, dengan dingin dan hangat menjadi satu kombinasi yang menarik perhatian Senja. Fajar hadir, dengan sinarnya yang meneduhkan, membuat Senja merasakan kenyamanan akan kakinya yang selama ini berpijak akhirnya bisa merasakan daratan dari awang khayalanannya sela...

Senja dan Sinar

Gambar
Di bawah sinar lampu itu, yang langsung menjurus kebawah mukamu, Aku mulai tahu bahwa sehabis hari itu kau tak hanya akan menjadi milikku seorang. Di bawah lampu itu, aku tahu bahwa semua yang kita miliki dulu tak semu kini penuh ragu. Aku segera sadar kehilanganmu segera. Di antara kerumunan aku menyasikan perlahan wajahmu memudar, menjelma menjadi pujaan yang lainnya. gerak dan hentakan badanmu menggoda semua, dan aku sadar kini aku harus merelakan dirimu dipuja.  Benar saja, Semua memang mudah tersihir dengan merdunya suaramu juga lirikanmu, hingga aku yang tak pernah sadar bahwa dirimu mempesona, tak hanya untukku. Di bawah sinar lampu itu aku segera tahu, bahwa aku akan kehilanganmu. ----(Begitulah, Senja membenci panggung dan pagelaran nada)

Kita.

Gambar
Antara lagu, paragraf dan tanda baca aku menemukanmu diantara tumpukkan buku. Mendayu, naik dan turun seperti itulah ketika aku bersamamu. Seperti nada-nada dan instrumen yang selalu tak tertebak bak lagu-lagu dari Earth, Wind & Fire kita berdua tau itu. Hanya aku dan kamu, yang mengerti mana sebuah karya pantas dihargai dan disebut sebagai lagu. Kita banyak berbicara bukan layaknya sang maestro suara. Kita hanya tau bahwa musik itu kaya dan sastra itu bahagia. Walau kadang sendu juga pundung mewarnai hari kita, namun selalu ada alasan untuk kita tak melepaskan pegangan. Aku yang memompamu hingga batas terakhir kesabaranmu, aku pula yang merindukanmu hingga hampir gila. Tapi ini lah kita, inilah hari dan lembaran kita, walau banyak jutaan pasang mata ingin kita tak bersama dan setengah mati iri pada irama kita. Aku tak berjanji, agar tak mengingkari. Namun aku meyakini. Bahwa ada satu, dimana hanya aku dan kamu yang mengerti..

Memori

Gambar
Foto : Pixabay Ada memori yang sengaja kau simpan dalam ingatan, bukan untuk menolak masa depan, namun untuk mengingatkan... Ada kenangan dimana tiap suasana dan detailnya tak pernah lekang oleh jaman, bukan tak bisa melangkah kedepan, hanya saja terkadang itu menenangkan.. Ada alunan nada yang tak pernah terlupa, disaat potongan suara mengingatkanmu akan malam gulita, atau khayalan babu kala muda... Beberapa memilih membuangnya, beberapa memilih mengarsipkan, dan sisanya menjadikan pelajaran. Memori...menyakitkan, memori...menenangkan, memori...dirindukan. Tapi kini kaki berada di masa kini, dan memori melengkapi hari.

Zeus dan Hera

Suatu Hari Zeus bertanya kepada Hera, Mengapa tetap setia walau dirinya selalu mendua. Hera tak menjawab, ia hanya membalas pertanyaan Zeus dengan senyuman penuh makna. Banyak yang tak bisa ia ucapkan begitu saja. Menjaga perasaan katanya, walau sebenarnya Hera lah yang lebih pantas mendapatkannya, bukan Zeus. Olympus dibenakku mungkin berbeda. Memangnya Aku siapa? Setengah Dewa? Jika Dewa bisa memilih keahliannya, Aku mau menjadi Dewa Kata-kata. Demikian. Hari itu sehabis hujan, Zeus mungkin berduka, atau sedang berpesta ria dengan selirnya? yang jelas hujan di bumi selalu menimbulkan tanda tanya tanpa solusi, bukan jawaban proses evaporasi. Terlalu ilmiah, kadang bikin otakku yang tak seberapa ini menjadi gerah. Kalau saja benar bahwa kehidupan itu paralel, Aku akan memilih kembaranku untuk mati saja. Kasihan, pasti menderita kalau dibiarkan berjiwa. Zeus tak kejam, tak juga lemah. Petir, adalah wujud kegelisahannya, atau bahkan suka citanya. Pindah galaksi sepertinya menari...

Koma

Menutup mata, yang... Mendengar suara, tak... Mencium aroma, Akan... Ilalang pagi, Jingga Sore, Malam, Pekat Waktu Mencekat... Tak salah, hanya.. Bukan Bercanda, cuma... Merasakan Hidup.. Mati rasa.. Tertawa, tak bahagia. Memandang, pikiran mengawang.. Berat, tak tampak.. Mulai redup.. Senyum, Baiklah Maaf, Tak mungkin Lupakan, Apalah... Terimakasih, Lupakan.. Atas memiliki kuasa, Bawah kehabisan oksigen menderita.. Atas seenaknya, Bawah merasakan proses semuanya.. Langit, Jalanan.. Tak Bertuan.. Miskin rindu.. Lelah tak berujung. Meraung, tak bersuara. Terisak, tak nampak Kesal, Tanda koma yang tak bertemu titik.