Postingan

Cukup, Sudah dan Baiklah

Matahari, Menyinari, Sebentar ini bukan baris lirik untuk menari-nari. Kenari, Kiwi. apalagi yang bisa disandingkan yang memiliki akhiran berarti, Siapa pula Sapu Lidi? kala Jam dinding memutar jarum kecilnya menuju pagi hari, Lelah.. Lelah..Lelah.. Basah bukan berarti harus dikeringkan, biarkan menjadi kerak dan mengering. Terduduk di sudut, celingak-celinguk takut ada yang mengamati, padahal sudah selesai dua paragraf sendiri. Tik dan Tok, Kemana pula arah kakiku akan pulang malam ini? (Ganti lagu dulu sebentar) Malah jadinya ganti laman saja, biar cepat disalin lalu tempel. Mata Sepat, jarak liburan dan hari-hari nyata begitu seperti karet, Melar gak kelar-kelar. Manalagi, tempat yang bisa dikunjungi hanya untuk menulis puisi-puisi basi? kini malam bagi peraduan, pagi bagaikan candu malu-malu, siang telah jadi rute banting tulang. sore? saatnya hore-hore sedikit, sambil mengernyit kapan hari jadi sempit? Sampai kapan, ku harus merindu, dengan isi kepala absurd yang...

Sampaikan dari ku pada Mu

Menjelang hari ke-14, Rasanya masih seperti mimpi anak umur belasan tahun, tiap pagi, tiap malam senyum berkembang, kadang pikiran bimbang hanya sebentar saja menyambangi, tanpa sedikit memberi corak di indahnya hari. Satu per satu, keinginan yang dituliskan di kertas lusuh, perlahan menjadi sesuatu yang nyata dan bisa diraba. Hari-hari paling bahagia ini akan terus terekam di kepala. Betapa baiknya Maha Pencipta. Satu Malam dimana semua bintang bertebaran, Kau beriku mimpi soal Nebula, hingga khayalan soal langit luas tak berbatas... Semua harap dan panjatan do'a tak luput satupun dari belaian KasihMu yang melebihi apapun. Kau berikan jelas di depan mata, betapa kecilnya sang hamba di dunia, apalah arti kesombongan dan ilmu pengetahuan bila tak diiringi dengan kerendahan hati dan rasa tahu diri. Andai bisa ku MenyembahMu lebih dari yang dapat ku lakukan saat ini. Air mata-air mata yang mengalir karena bahagia memang benar ada. JanjiMu bukan sebuah fiksi atau dongeng pe...

Dingin

Dingin malam yang menusuk langsung ke tulang, rasanya... Bukankah seharusnya detik-detik ini jadi bahagia? Tapi, kok ya menyiksa ya? Apa semesta belum sepenuhnya rela? Bagaikan pinggiran aspal... Tajam, dan tak rata. Seperti tak ada harganya. Sesak, Serasa semua akan jadi sia-sia.. Masih bisakah nalar ini berkelana? Dikala yang tercinta hanya bisa memaki belaka. Aku berdua, tapi rasa bak tunggal saja. Mungkin ini pertanda, Aku yang tak bisa apa-apa...akan terus menerima hina. Walau sekuat tenaga ku kan berusaha menjadi yang bisa menerima.

Lebih

10 Tahun Kemudian.... Matanya masih saja termanis yang pernah ku tatap, dan ku larut mendengarkan semua kelakarnya. Ya, memang jenakanya yang berhasil merebut hati dan sukma. Lebih dari rindu, lebih dari apapun... Lebih. Lebih. Lebih. Dia adalah duniaku, pasang dan surutku. Hangat dan dingin yang bersamaan untukku Sesak dan ratusan geli kupu-kupu itu masih muncul. Bahkan, tulang belulangku seakan melunak. Satu hari tak pernah selalu cukup. Kau adalah samudera ku, dalam dan penuh teka teki. Kau adalah cinta yang tak ada duanya, bahkan Tuhan pun tertawa ketika kita bersama. Seluas langit, setinggi gunung, kau adalah krayon neon untuk setiap buku mewarnaiku... Hingga di ujung jalan akhirnya kita sadar, bahwa dunia terus berputar... Apa yang kita miliki sungguh memang bersinar, namun begitu getir dan nanar. Kau selamanya, dan sampai kapanpun. Air mata dan canda tawa. Selamat Berbahagia, Kau tahu aku siapa.

Rindu #2

Rindu, Kosong itu belum terisi, sampai dingin dan sesak keinginan untuk mencumbu. Rindu, Sayang yang tak berbatas itu, masih membara namun tak sempat dikobarkan. Rindu, Rasa bersalah yang kalah karena penasaran, apa perasaan ini pernah bersambut atau hanya jadi lalu... Rindu, Dekap aku, mari bertemu..karena masih ada satu rasa yang tak semu. Rindu, Terkantuk-kantuk aku mencoba mengulur waktu, agar rupamu tak hilang ditelan oleh kalbu.

Berdiri

Jumat, 26 Mei. Matahari sudah tinggi, proyek underpass kartini yang belum rapi, menghambat jalur ke tempat kerjaku hari ini. Dengan sedikit peluh yang membasahi punggung, ku coba untuk berjalan cepat menuju deretan pertokoan di selatan jakarta. Jam menunjukkan 11:33 aku rasa aku akan melewatkan sholat Jum'at ku lagi minggu ini. Berjalan menuju kedai kopi, dimana ketika kau buka pintunya harum biji kopi dan wangi krim susu langsung menyengat, beberapa pramuniaga menyapaku. "Siang pak..." Segera ku menuju pintu tengah untuk meletakkan barang bawaanku, ku seka lipatan di seragam biru gelapku, ku rapikan lipatan-lipatannya. Seorang pramuniaga menyapaku lagi "Minum dulu Pak.." "Ah, sudah tak usah..." Ku berjalan menuju pintu depan, dengan sigap mulai ku bukakan pintu dan menyapa setiap tamu yang datang.. Hariku masih panjang.. Semoga kedai kopi ini terus ramai. Aku berdiri dan memegang pintu dengan semangat.

Alana.

Alana, Seharusnya, mata menatap yang indah saja..tak seharusnya ia melihat kedua orang tuanya mendua. Saat itu ia masih remaja. Alana mencoba tak ambil pusing kepala. Alana, Rasanya seperti berjalan dengan lubang besar di dada... Mungkin itu pula yang jadikan alasan ia menghempas cinta-cintanya yang harusnya sempurna. Alana, Dipermainkan oleh rasa percaya, di salju pertama kau menitihkan air mata. Rasanya lebih dingin, beku.. Karena tak tahu harus kemana, yang terekam di kepala hanya penghianatan kedua bapak ibunya, tak hanya kepada satu sama lain, juga berbekas ke dirinya. Alana, Mungkin kau lelah,menunggu malam Sabtu yang tak sendu, dimana jemari mengelus lembut rambut. Alana, Sekeras baja, kau tolak mereka...serapuh abu, dirimu merana. Sendiri dalam lara. Alana, Bingung memang, serasa jalan pulang hanyalah lorong-lorong panjang..kakimu gemetar. Alana, Alana, Seandainya semesta mampu mendengar ringkihanmu. Tapi seakan semua lalu. Meninggalkanmu, di pojok perempatan it...