Postingan

Surat Kecil Milik Poseidon

Ada salam yang ingin disampaikan oleh langit dini hari itu,betapa gugusan-gugusan bintang menggambarkan sinar saat pertama kali Aku melihatmu. Ada pesan yang dibawa gulungan ombak perlahan menghampiri kakimu di ujung pantai, menyisakan sedikit pasirnya di dalam selipan jemari kakimu, betapa sebegitu eloknya Kau mampu mengikat hatiku. Ada isyarat yang timbul dari senja yang sengaja kau nikmati perlahan hilangnya, mengibaratkan bahwa terlalu sedikit waktu yang bisa kunikmati untuk tenggelam dibawah teduhnya pelukanmu. Ada batas terdekat antara garis mentari pagi dan juga matamu, sedekat aku ingin tersesat oleh pemikiran-pemikiranmu. Hembusan angin siang hari bak pelipur lara dikala kau tak berada didalam pandangan, begitu tersiksa hanya bisa mengagumi dari ekor mata. Mencuri pandang dibalik pundak-pundak ketika tiba saling pandang tetapi akhirnya melemahkan seluruh syaraf di raga. Ingin rasanya Aku meminta izin merengguk harum tengkuk leher mu, lantas tergila juga hanyut dalam setia...

Kala Hujan, Kita Dipertemukan. #1

Gambar
Hujan mendekatkan, menjauhkan, dan menemukan. Hujan turun, Jakarta pagi berantakan, tak terbanyangkan merebaknya kendaraan di segala sisi arah. Mobil berburu tempat mendahului tapi tak akan sempat. Sepeda motor datang dari segala, mengisi sempit bahu jalan menghantam trotoar. Berpacu dengan kemacetan, langit Zeus pun kian menghitam kelam berangin lalu dibarengi dengan air mata para dewa dewi olimpus. Kalau jam tangan perak itu tak menunjukkan pukul 06:00 semuanya tak akan menyangka itu adalah pagi hari.. Sepeda motor itu berhenti di pertigaan pondok indah. Di sebuah warung rokok, ia  mengibas-ngibaskan jaketnya. Mulutnya tak berhenti mengucapkan kalimat sumpah serapah. "Bajingan! ujan pagi-pagi bikin semua berantakan!" sambil menyalakan sebatang rokok. Asap mengepul hilang tersapu rintik air. Bau tembakau semerbak ke seluruh warung. Di sudut jalan ada pengamen yang berteduh sambil memeluk gitarnya. Pemuda itu terus merokok menunggu redanya hujan. ---sementara---------...

Denyut Kehidupan

Waktu, mungkin kita cenderung mengabaikannya hingga ia terbuang sia-sia. Seringkali orang dibuat gila oleh waktu, padahal ia hanya berjalan santai sesuai jalannya. Tapi, apa yang terjadi jika kita tak pernah memperhitungkan waktu? kita tak akan takut kehabisan atau kelebihan waktu, tak akan tergesa-gesa atau bermalas-malasan. Bisakah kita hidup dengan mengabaikan waktu? Ketika kita merasa ada yang konstan di sebuah keramaian trotoar jalan-jalan besar, semua orang lalu lalang takut kesiangan, atau ada yang berjalan santai karena kepagian. Kita menghamba pada pergantian detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, hari ke minggu, minggu ke bulan dan bulan ke tahun. Tanpa kita sadari, kita telah melewatkan banyak hal karena terlalu terpaku pada waktu. Waktu bagaikan ibu dari kehidupan, siang berganti malam semua orang memikirkan kapan gelap berganti terang, atau meresahkan satu digit di lembaran yang disebut dengan kalender. Waktu adalah uang, waktu adalah hidup, waktu adalah segalanya. A...

Cerita Benci

Bagaimana nafsu bisa mengalahkan semuanya? bukannya sok suci, tapi banyak sekali pertanyaan yang menghimpit. Hampir tak waras mungkin, tak bermaksud untuk menggurui, berdiri di mimbar saja rasanya tak sudi. Apa gunanya lebih unggul jika tak dari hati? ingin menjadi pahlawan? atau menjadi bungkusan rokok di pinggir trotoar? Benci selalu dijadikan alasan, padahal diri sendiri terlalu gengsi untuk mengkoreksi. Menghujat memang jauh lebih nikmat daripada berbenah diri, sekalipun berusaha jujur, Katak yang pandai berenang pun pasti pernah tenggelam. Kenapa masih sulit berdamai dengan kepala sendiri?  Amarah rasa-rasanya sudah tak lagi menjadi sesuatu yang wah. Iri sepertinya bukan satu kata yang pas di hati, lebih ke hilang arah dan tak bergairah sepertinya. Kemana sukma-sukma berwarna yang duru hinggap di ujung hidungnya? kini yang ada hanya muram, sedikit saja tak diperhatikan, mungkin akan hilang ke dimensi lain. Berantakan...berubah menjadi puing-puing harapan dan janji palsu! ...

Dialog Taman

Gambar
Ini adalah malam yang kita nantikan, dimana taburan bintang juga senyum sang rembulan. Di bawah lampu-lampu jalanan, di bangku taman kita melepaskan penat sejenak tentang segala sesuatu dengan waktu tenggat. Mengingat-ingat kembali pertama kita saling memuja. Aduhai senangnya melihat senyuman yang masih sama, walau garis-garis menua di wajah membentuk rahang semakin menjadi tegas dan sempurna. Aura kedewasaan terpantul dari sinar malam dan dinginnya angin bekas hujan tadi sore. terawallpaper.net Ini adalah hari yang kita idamkan, bercerita dengan segelas bajigur hangat di tangan sambil makan kacang, kita buka lagi lembaran mimpi yang dulu sempat terpatri. Kini kau sudah berdasi namun tetap tak hilang sikap teduhmu. Pembicaraan kita bukan lagi soal tata surya, melainkan sudah sampai ke tahap galaksi-galaksi lain. Dulu kita saring berebut siapa yang akan tinggal di Orion, dan kau akan selalu marah jika harus diusir jauh ke Gargantua, bahkan kita masih berpura-pura sebagai Demig...

Dan Kita Sebenarnya Memilih Jalan yang Sama

Ternyata Kita menunggu di ujung jalan yang sama, hanya saja kita berselisih waktu 5 senja. Pertanyaan-pertanyaan kacangan mulai berterbangan di dalam pikiran “Kenapa baru sekarang sih? Kenapa gak dari dulu aja?,” Ribuan surat pun kita tulis tanpa saling bersinggungan. Tanpa saling mencela atau bahkan menghamba satu sama lain, tetapi alamat yang kita tuju selama ini sama. Lagi-lagi ingin menyalahkan waktu yang datang terlambat? Ketika barisan kata-kata mampu menghipnotis jiwa, ingin rasanya menampik pikiran tentang “Gue tahu loe itu something, but someday.. ” Bagaimana bisa jatuh cinta tanpa melihat rupa? Jelas saja, ini bukan kencan buta. Tetapi permainan dimensi antara ruang dan waktu dimana gravitasi yang menghubunginya. Para dewa pun terus membicarakan tentang dua manusia fana yang saling mencari tanpa bisa bertanya. Olympus pun mentertawakan dari jauh, membiarkannya anak cucu adam dan hawa ini saling menebak-nebak dalam labirin kasmaran. Inilah mungkin yang disebut d...

Jiwa-jiwa yang Rusak

Jika setiap tubuh harus terisi jiwa dan terdiri dari kepingan-kepingan angan juga mimpi, wajar jika terkadang salah satu partikel itu menghilang jauh mengawang. Ketika senja terasa begitu menyakitkan menebarkan benih-benih penyesalan kemudian hilang tenggelam di gelapnya malam. Beberapa orang berperan sebagai penyembuh, atas luka lama tetapi juga berpotensi sebagai penoreh luka baru. Yang hilang akan digantikan oleh yang datang, tetapi ingatan tak lekang dimakan oleh jaman. Otak bersinergi dengan bagian terkecil dari sanubari, bagaimana bisa sebuah kalimat menghujam hati dengan darah yang pekat? Kehilangan adalah proses menerima beberapa realita yang berubah menjadi kenangan, maka tak ada mati. Apa yang paling menyakitkan dari tumbuh dewasa, selain melihat seluruh keadaan tambah menua? yaitu ketika kita mulai mengerti semuanya. Permasalahan sederhana seperti pensil tumpul sudah tak berlaku  lagi. Yang ada hanyalah rangkaian pertanyaan 'ingin jadi apa aku ke depan?" Hidup...