Postingan

Jati Diri

Bukan mereka yang tak ramah, Hanya aku yang menjaga jarak.. Bukan mereka yang lupakan, Hanya aku yang putuskan tak terlibat lagi.. Bukan mereka yang terlalu mewah, Hanya aku yang setia dalam kesederhanaan.. Bukan mereka yang tak peduli, Hanya aku yang tak ambil pusing.. Mereka yang normal, Aku yang caru batu untuk ditelan. Mereka yang bahagia, Aku yang berpihak pada sementara.. Mereka yang berjalan sesuai aturan, Aku yang lari dari putaran,keluar barisan menikmati kesendirian. Aku...merasa nyaman, saat dunia tak melihatku. Saat hujan melewatkanku.. Saat malam menenggelamkanku, dalam mimpi-mimpi sendiri yang tak kaku, bebas tanpa siapapun yang mengguru, memburu...

Penyesalan

Sembab mata, membuyarkan ketulusan. Rungsing curiga mengenyahkan keikhlasan. Buruk sangka tambah memoles luka lama. Hingga terkadang yang indah terlewatkan, yang baik diacuhkan. Sibuk egois dan merasa paling dinamis. Padahal hanya menimbun pemakluman yang tak agamis. Kemana seharusnya kaki melangkah? Jika Tuhan menyuruhmu tak melulu percaya logika. Semua sudah jelas akan firmanNya. Bahwa semesta menyuruhmu untuk tunduk dan patuh padaNya. Tak usah tanya mengapa, dan jangan pernah berpikiran bagaimana. Sebab waktu bukan kau yang punya kuasa, cinta lama dan cinta yang sebenarnya pelik terjejer menjadi realita. Tuhan sayang, hamba yang malang. Tersesat...dan kembalilah pulang, dengan jiwa yang lapang. "Tak kah kau sadari, ku kirimi malaikat dari jenismu sendiri?" Sedikit menyesal tak ada guna. Kerana lentera sudah terlanjur redup oleh dinginnya angin malam di purnama ke dua.

Rindu

Aku yang merindu, terpisah jarak antara pohon randu dan tandu berwarna abu-abu itu meninggalkan kaki lusuh, terasa haru. Aku yang merindu, terpaut jauh antara titik dan koma, melambung tinggi menuju kesempurnaan cerita, hampa dan nelangsa. Aku yang merindu, sesak dan terisak hanya kepalan mimpi-mimpi yang hampir rusak, terhempas dan mengerak. Aku yang merindu, yang terbelenggu antara dimensi waktu dan bandul gundu.

Kawan Lama

Ketika penuh sesak, bahu berhimpit. Terjebak rindu terbentur waktu. Mereka yang dulu kokoh menjadi satu, Kini, bagai butiran partikel asing di ruang semu.. Semua terlihat asing, tawa dan canda yang dulu seirama, kini saling tolak suara.. yang ada hanya diam, dan senyum canggung. Yang tersisa hanya basa-basi tanpa makna. Setahun menjelang, yang benar-benar terikat lah yang terus terpampang. Penentuan prioritas, memaksa melupakan masa muda. Terkadang sendu, terkadang malu untuk bertegur sapa. Padahal dulu seiring berjalan sebeban rasa.. Kawan lama. Apa kabarnya?

Pengamat

Pada yang lebih banyak diam, dan mengamat-amati. Tata bahasa yang berantakan tapi sepenuh hati, terucap melalui kacamata sendiri. Acap kali kadung berasumsi, tapi enggan untuk mengklarfikasi. Sunyi, Sepi..

Nirmala

Wanita kembang duri, tak pernah jadi pilihan dipetik lalu ditinggalkan. Wanita kembang duri, mekar di penghujung hari pada Kamis malam yang sepi.. Wanita kembang duri, menempa dingin terbiasa sendiri, senyum gigi kelinci terasa pahit abadi. Wanita kembang duri, terlewatkan pandangan silau matahari.. Wanita kembang duri, begitu suci bak nirmala teduh redam hangat bagai kopi sore hari..

Bukan Puisi

Belakangan ini, jemari mulai geli. Seluruh isi hati dan jiwa mulai menggeliat ke penghujung diksi-diksi. Bagaimana bisa dikatakan romantis melalui bunga? Jika kata-kata mampu melambungkan sukma. Bagaimana pula diasingkan hanya karena tulisan? Kocar-kacir para petinggi dibuat kaku oleh permainan diksi. Mereka yang terbuang, hanya karena logikanya menerawang, tercetak di atas kertas usang. Dipinggirkan, hingga dihilangkan. hanya karena sebuah perumpamaan. Umpatan, cibiran juga ungkapan kerinduan bisa lebih berbahaya daripada senjata yang menghujam. Menyebar, masuk dan menginfeksi ruang-ruang kepala yang muda. Aksara, dan lara. Atau hanya barisan kata-kata. Salam rindu dan keheranan, untuk mereka yang hilang tenggelam dalam bait-bait rasa.