Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Permintaan.

Setiap orang memiliki momennya sendiri-sendiri. Mereka datang dengan lintasan masa lalu yang panjang. Setiap keahagiaan yang terjadi, ataupun kesedihan yang pernah diratapi.. Terkadang, orang bisa kelewatan ketika berdoa dan meminta. Tanpa berpikir, kekuatan sebuah kata bisa menjadi bahaya atau bahkan bahagia. Kita tak bisa meminta seseorang datang ke kehidupan kita kosong bagaikan kertas, karena tak begitu mereka ketia tiba di dunia, banyak tinta-tinta yang sudah menorehkan noda ataupun cerita di dirinya. yang lucunya, terkadang kita berdoa agar selalu semua hal berjalan sama, paling tidak, jika  kita kehilangan sesuatu yang kita suka..suatu hari kita berharap akan mendapatkan penggantinya, kalau bisa sih yang persis sama... Sakit hati dan perasaan rindu membawa kita mengharapkan sesuatu yang gila, berharap waktu bisa diputar, atau bahkan dihentikan. Tapi, waktu itu jahat... tak berperasaan dan tak memiliiki hati, waktu membuat orang hilang akal atau pun terlena. Waktu datang de

Pulang ke Surrey

Perjalanan diwarnai dengan sedikit hujan hari itu, ketika roda-roda pekerja mesin itu menembus jalanan yang dikelilingi hutan pinus, langit berwana abu-abu muda saat itu. Dingin dan sejuk menjadi satu saat kaca jendela terbuka, wangi air bercampur basahnya tanah melintasi hidung, senyum mengembang.  London tak pernah seteduh itu, makanya Aku pergi ke Surrey, sekedar hanya untuk menghabiskan akhir pekan. pertengahan Desember, Aku melirik ke jam tanganku sedikit. sampai pada satu pedesaan dengan rumah berdinding batu-batu kali, Aku melihat sisa perapian tadi malam masih menyala dari kejauhan. Rumah, dengan ruang tamu berisikan sofa kulit beludru dan kain perca yang terlipat rapi, Aku melepaskan penat dari kesibukan London yang pekat. Hangat.

Akhirnya Senja Bertemu Dengan Sang Fajar

Senja namanya, Selama ini Ia hanya terduduk di ujung tebing, sembari menikmati matahari terbenam. Isi kepalanya bergerak cepat seiring awan sore hari hilang bersama dengan kabut. Senja namanya, Selalu saja Ia termenung tertunduk, ketika malam menjemput dan siang meninggalkannya, Ia tenggelam dalam kenangan juga kesalahan, yang ia lihat hanyalah gambaran juga perasaan yang berbalut luka, kecewa, marah, dendam dan lara. Senja namanya, Saat Ia kesulitan memaafkan dirinya,memaafkan orang lain, Ia berlari ke ujung hutan, mengambil batu melemparnya jauh ke tebing. Senja sendirian dalam teriakan kesedihannya. Senja namanya, yang ada hanya murung, keluh dan kesah..Sepertinya Ia sulit bersyukur. Hingga suatu saat... Muncul Fajar, dengan dingin dan hangat menjadi satu kombinasi yang menarik perhatian Senja. Fajar hadir, dengan sinarnya yang meneduhkan, membuat Senja merasakan kenyamanan akan kakinya yang selama ini berpijak akhirnya bisa merasakan daratan dari awang khayalanannya sela

Senja dan Sinar

Gambar
Di bawah sinar lampu itu, yang langsung menjurus kebawah mukamu, Aku mulai tahu bahwa sehabis hari itu kau tak hanya akan menjadi milikku seorang. Di bawah lampu itu, aku tahu bahwa semua yang kita miliki dulu tak semu kini penuh ragu. Aku segera sadar kehilanganmu segera. Di antara kerumunan aku menyasikan perlahan wajahmu memudar, menjelma menjadi pujaan yang lainnya. gerak dan hentakan badanmu menggoda semua, dan aku sadar kini aku harus merelakan dirimu dipuja.  Benar saja, Semua memang mudah tersihir dengan merdunya suaramu juga lirikanmu, hingga aku yang tak pernah sadar bahwa dirimu mempesona, tak hanya untukku. Di bawah sinar lampu itu aku segera tahu, bahwa aku akan kehilanganmu. ----(Begitulah, Senja membenci panggung dan pagelaran nada)

Kita.

Gambar
Antara lagu, paragraf dan tanda baca aku menemukanmu diantara tumpukkan buku. Mendayu, naik dan turun seperti itulah ketika aku bersamamu. Seperti nada-nada dan instrumen yang selalu tak tertebak bak lagu-lagu dari Earth, Wind & Fire kita berdua tau itu. Hanya aku dan kamu, yang mengerti mana sebuah karya pantas dihargai dan disebut sebagai lagu. Kita banyak berbicara bukan layaknya sang maestro suara. Kita hanya tau bahwa musik itu kaya dan sastra itu bahagia. Walau kadang sendu juga pundung mewarnai hari kita, namun selalu ada alasan untuk kita tak melepaskan pegangan. Aku yang memompamu hingga batas terakhir kesabaranmu, aku pula yang merindukanmu hingga hampir gila. Tapi ini lah kita, inilah hari dan lembaran kita, walau banyak jutaan pasang mata ingin kita tak bersama dan setengah mati iri pada irama kita. Aku tak berjanji, agar tak mengingkari. Namun aku meyakini. Bahwa ada satu, dimana hanya aku dan kamu yang mengerti..

Memori

Gambar
Foto : Pixabay Ada memori yang sengaja kau simpan dalam ingatan, bukan untuk menolak masa depan, namun untuk mengingatkan... Ada kenangan dimana tiap suasana dan detailnya tak pernah lekang oleh jaman, bukan tak bisa melangkah kedepan, hanya saja terkadang itu menenangkan.. Ada alunan nada yang tak pernah terlupa, disaat potongan suara mengingatkanmu akan malam gulita, atau khayalan babu kala muda... Beberapa memilih membuangnya, beberapa memilih mengarsipkan, dan sisanya menjadikan pelajaran. Memori...menyakitkan, memori...menenangkan, memori...dirindukan. Tapi kini kaki berada di masa kini, dan memori melengkapi hari.

Zeus dan Hera

Suatu Hari Zeus bertanya kepada Hera, Mengapa tetap setia walau dirinya selalu mendua. Hera tak menjawab, ia hanya membalas pertanyaan Zeus dengan senyuman penuh makna. Banyak yang tak bisa ia ucapkan begitu saja. Menjaga perasaan katanya, walau sebenarnya Hera lah yang lebih pantas mendapatkannya, bukan Zeus. Olympus dibenakku mungkin berbeda. Memangnya Aku siapa? Setengah Dewa? Jika Dewa bisa memilih keahliannya, Aku mau menjadi Dewa Kata-kata. Demikian. Hari itu sehabis hujan, Zeus mungkin berduka, atau sedang berpesta ria dengan selirnya? yang jelas hujan di bumi selalu menimbulkan tanda tanya tanpa solusi, bukan jawaban proses evaporasi. Terlalu ilmiah, kadang bikin otakku yang tak seberapa ini menjadi gerah. Kalau saja benar bahwa kehidupan itu paralel, Aku akan memilih kembaranku untuk mati saja. Kasihan, pasti menderita kalau dibiarkan berjiwa. Zeus tak kejam, tak juga lemah. Petir, adalah wujud kegelisahannya, atau bahkan suka citanya. Pindah galaksi sepertinya menari

Koma

Menutup mata, yang... Mendengar suara, tak... Mencium aroma, Akan... Ilalang pagi, Jingga Sore, Malam, Pekat Waktu Mencekat... Tak salah, hanya.. Bukan Bercanda, cuma... Merasakan Hidup.. Mati rasa.. Tertawa, tak bahagia. Memandang, pikiran mengawang.. Berat, tak tampak.. Mulai redup.. Senyum, Baiklah Maaf, Tak mungkin Lupakan, Apalah... Terimakasih, Lupakan.. Atas memiliki kuasa, Bawah kehabisan oksigen menderita.. Atas seenaknya, Bawah merasakan proses semuanya.. Langit, Jalanan.. Tak Bertuan.. Miskin rindu.. Lelah tak berujung. Meraung, tak bersuara. Terisak, tak nampak Kesal, Tanda koma yang tak bertemu titik.

Apa Kabar Senja?

Senja bukannya tak ingin lagi bertegur sapa. Ia hanya bingung memulai darimana. Sepertinya waktu terlampau sedikit untuknya. Malam yang tanggung dengan Subuh yang dengan kejam membuat matanya tak mampu terpejam nyaman Mungkin kerutan sudah mulai meranggas, tinggal tunggu muncul di permukaan. Senja merasa rotasi bumi semakin membuatnya gila. Menua, kehilangan orang tercinta, Baginya kini, Peraduan hanyalah kasur dan bantal saja. Senja menyadari apa yang dulu bahagia kini berubah menjadi fana. Seakan berlembar-lembar sajak cengengnya hanyalah fatamorgana dibagian lain dalam memorinya. Tak bisa lagi Senja menikmati detik dengan kalimat yang menggelitik, Ia takut mimpinya terbenam. Matanya lelah, panas. dengan telapak kaki yang selalu meminta untuk beradu dengan lembutnya sellimut. Badannya tak selincah dulu. Kini Senja banyak murung, dengan kalkulasi materi di kepalanya. Tak ada lagi aksara yang membuatnya mudah jatuh cinta dan ilang logika. Kini Senja seperti pena kehabisan tinta.

Mata

Gambar
ilustrasi : pixabay "Dan ketika keduanya bertemu tatap, maka sekeliling semesta ikut menghujaninya dengan restu dan doa agar mereka selalu bersama...." Ada mata yang tak akan pernah habis kau pandangi, dimana retinanya seakan berisi surga dan segarnya air kelapa pelepas dahaga. Ada mata yang tak akan lelah kau sambangi, dimana bukan lagi pelangi yang terlihat tetapi refleksi mimpi-mimpi peneduh hati. Ada mata yang tak pernah kau lewatkan sendunya, ketika jendela luka terukir jelas di depannya, dan tak sanggup kau emban yang kau lakukan hanyalah ingin menyelam kedalamnya, membasuh seluruh lara. Ada mata yang akan selalu kau rindukan karena sinkronisasi senyuman yang tanpa sadar kau sunggingkan, hanya karena tatapannya begitu manja tapi tak berusaha menggoda. Akan ada mata yang kau saksikan setiap harinya, kemana hati dan pikirannya selama ini menjelajah, dan kau tetap penasaran bagaimana sukmanya melanglang buana selama ini. Ada mata yang selalu meneduhkan hari-ha

Prioritas

Gambar
ilustrasi : pixabay Mungkin, selama ini bukan lingkungan yang berubah, bisa saja Kamu. Mengapa begitu? sebenarnya, bukan masalah sempat atau tidak sempat, butuh atau tidak, rindu atau enggan bertemu. Namun, semua soal prioritas. Jika kita melihat setahun atau dua tahun ke belakang, dan mulai membandingkan dengan kondisi yang ada sekarang, yang berubah bukanlah lingkungan. Bisa saja dirimu sendiri. Hari ini prioritasmu adalah berkumpul dengan keluarga, menghabiskan waktu di ruang tengah, dan sibuk merencanakan liburan akhir pekan. Tapi, bisa saja kamu absen dari perkumpulan itu dan memilih untuk menjenguk teman yang sakit, atau pergi jalan-jalan dengan kekasihmu. kembali lagi semua soal prioritas. Kalau saja, setiap orang bisa berpikir "Oh ya mungkin dia punya urusan yang lebih penting" tak akan ada yang namanya rasa 'dipilih kasih-kan' karena semua orang memiliki prioritasnya masing-masing. Memang benar, bentuk hadiah termahal yang paling bisa diberikan adal

Senja dan Kehilangan

Senja telah melihat banyak kehilangan dalam hidupnya. Mulai dari hal sepele seperti kehilangan karet penghapus dari dalam tempat pensilnya, hingga ia melihat kehilangan yang membuat isi kepalanya hilang, mengawang. Hidup mengajarkan dirinya bahwa satu hal yang pasti adalah perubahan dan kematian, sedangkan yang abu-abu hanyalah ekspetasi-ekspetasi lintas imaji. Senja masih mencoba untuk tetap waras, di antara cepatnya jarum panjang juga sibuknya para langkah kaki yang lalu-lalang tiap harinya. Kehilangan banyak mengajarkan. Dari kedua matanya yang coklat tertempa sinar mentari, Senja menyaksikan bagaimana seseorang kehilangan belahan jiwanya. Seakan air mata tak mampu membayar kekosongan batin, dan melunasi janji-janji ragawi. Dari kedua matanya yang coklat, Senja menyaksikan bagaimana seseorang kehilangan kepercayaannya terhadap penglihatannya sendiri. Seakan, sejuta kata maaf tak mampu menebus dinding yang terlanjur beku. Senja tak sibuk menghakimi, hanya sibuk mempelajari bag

Hari itu, dan Hari Ini.

Hari itu, Aku melihat Ibumu sedang berjalan di depan sebuah mimbar, mengambil sebuah catatan kecil dengan kepala yang terhubung dengan headphone, ya...Ibumu tampak sangat manis dengan kaus putih bertuliskan band favoritnya, The Phoenix. Hari itu Aku melihat ibumu, sedang mengenggam es krim dan melahapnya dengan lucu, ya.. Ibumu memang tergila-gila dengan susu dingin bercampur gelatin itu, sungguh. Ia sangat lucu. Hari itu, aku melihat ibumu, sedang duduk di bawah pohon kapuk randu, saat kapuknya mulai berterbangan.. Aku rasa ibumu sedang menganggap hujan salju.. Hari itu, tak sengaja ibumu menabrakku lalu mengucap maaf dan pergi terburu-buru sepertinya mukanya gelisah, matanya tak lepas dari telepon genggamnya. Belakangan, Aku tau saat itu Kakekmu sedang masuk rumah sakit.. Hari itu, aku melihat ibumu sedang berdiri di deretan rak buku, alisnya berkerut. Sungguh perpaduan gemas dan serius yang sekarang terlukis jelas di wajahmu nak, dan hari itu pula Aku memberanikan

Pulang

Aku hanya ingin pulang ke rumah.... Dimana hujan membahasi atap saat sore hari dengan alunan lagu Across The Universe dari The Beatles, yang sayup-sayup menenangkan kaki yang lelah dan dibalik dinginnya selimut. Tanpa lengan yang menyambut, hanya biasan cahaya menuju gelap indah menyelimuti bingkai jendela. Aku hanya ingin pulang ke rumah..., Saat mata sudah lelah melihat pedagang getuk keliling yang tak kunjung ramai, pulang dan merekam setiap ingatan tentang jalanan dimana hanya ada bunyi sol sepatu keras yang menyatu dengan kasarnya aspal, sekasar omongan para manusia berkerah itu. Aku hanya ingin pulang ke rumah.. Aku hanya ingin pulang ke rumah... Menelusuri jalan berkelok ditempa angin malam juga lampu-lampu lalu lintas yang berinringan berganti, Aku merasa terasing diantara segerombolan dasi juga jas...biarkan aku pulang ke rumah dimana Happines is The Warm Gun dari The Beatles mengiringi air pancuran yang membasahi badanku perlahan ketika mandi... Aku hanya ingi

Tak Ada Buku Manual untuk Menjadi Dewasa

Akan ada saatnya kita merasa hari berlalu begitu cepat, dari pagi yang kita curi-curi hanya untuk memejamkan mata barang sebentar lagi. Kepada setiap siang yang kita ulur-ulur di waktu libur agar ia tak cepat bertemu dengan sore lalu berganti malam, paling tidak cukuplah untuk makan es buah tanpa teringat tugas anak buah yang bikin kepala mau pecah.. Sama halnya, dengan setiap permasalahan yang muncul silih berganti seakan tak pernah kosong mengisi rak-rak yang hampir sesak dikala semua tekanan memuncak. Masih ingatkah ketika permasalahan memilih warna hijau atau biru untuk mewarnai gambar gunung? namun sekarang, memutuskan untuk terus bertahan dengan budgeting juga tekanan deadline yang harus tampil sempurna. Rasa-rasanya, masih kemarin kaki-kaki ini berlari untuk mengejar layangan, bukan sibuk naik turun tangga penyebrangan.. Kita seperti berada pada satu lorong dimana pemandangan kanan kirinya adalah kolase-kolase ingatan yang hampir memudar, tentang keluarga yang tinggal

Mengapa Suka Menulis?

Gambar
Oke, ya! sebuah postingan random kali ini disponsori dengan lagu I Want You Back dari The Jackson Five yang delay satu menit karena si Toshi kebanggan Saya ini sudah hampir memasuki usia remaja dewasa, begitulah para Psikolog menyebutnya. Jika melihat latar lagu yang sedang mengalun mengiringi Saya membuat tulisan ini sekilas akan terlihat seperti tulisan-tulisan cinta yang biasa menjadi pengisi blog yang umurnya barulah sama dengan keponakan Saya yang lagi girang-girangnya menonton kartun di Youtube, huh zaman sudah berubah. Omong-omong, I Want You Back dari The Jackson Five ini tak salah menjadi pemandu lagu untuk tulisan Saya kali ini, karena bahasannya tentang ya..permohonan, permohonan untuk sesuatu kembali yang tak mungkin lagi terjadi, dalam hal apapun. Itu pula lah yang menjadi dasar kenapa Saya tetap menulis, walau sejuta cerita-cerita kehidupan menuntut Saya untuk menjadi orang normal yang harus menghabiskan waktu di dalam rutinitas yang selalu saja membuat jantung terp

Ini Bukan Penawaran Asuransi

Jika kamu meminta makhluk ini untuk romantis, maka ia akan menjadi gula terpahit yang pernah kamu temui di dalam segelas kopi yang hampir dingin, ia tak pintar menjelaskan huruf-huruf manja dan juga kalimat penuh gombalan asmara, yang hanya membuatnya memutar balikan kepalanya seperti wayang golek lepas mur... Jika kamu memohon kepada makhluk ini untuk bisa lembut dan berkata penuh unsur-unsur menggoda, ia akan menjadi balok kayu yang paling keras dan siap menghantammu hingga jantungmu hampir berhenti berdetak, jangan sekali-sekali mencobanya. Jika kamu bertanya kepadanya hal terindah apa yang pernah terjadi di dalam hidupnya, ia akan menjawabnya dengan kenanangan-kenangan penuh duri juga cerita mengenai derita yang sama sekali tak membuatmu nafsu makan pada malam hari. Jadi, masih maukah kau menyeka air matanya ketika ia mati-matian membentengi dirinya yang sekeras baja itu? masih maukah kau menjadikannya rumah untuk pulang dan membuatmu melepas segala rindu yang terbengkalai

Dan Senja Pun Berdoa

Awal Tahun 2047, Tak seperti biasanya, yang normal pasti langsung akan digambarkan dengan aksara-aksara mencerminkan rasa bahagia, atau bahkan langsung mengutuk dengan kalimat-kalimat penuh lara. Tepat seminggu setelah tatap muka, atau kurang dari sebulan berjumpa mata. Namun, kali ini Senja membiarkannya menutup mata hingga pertemuan bulan separuh yang kelima. Bukan kehabisan inspirasi atau tanda baca, hanya saja Senja seperti membentengi dirinya sendiri sama ketika ia akan bertemu dengan Petang atau sekedar tegur sapa dengan Malam. Jadi, yang Senja tau selama ini ia hanya mencoba memagari dirinya dengan dinding es, dingin namun bisa meleleh..hanya saja butuh waktu. Baru kali ini, Senja mengulur waktu dan mencari sudut kota terbaru untuk merangkum dalam sebuah paragraf, semua yang terekam di kepalanya yang tersisa adalah kecepatan suara, hamparan cahaya dan dinginnya angin yang menusuk tengkuk lehernya. Halaman per halaman seperti menjadi satu, Senja hanya mampu menarik nafas, i